Selasa, 22 Januari 2013

MIKROFON



Karya : Taufik Ismail
Aku lihat diriku berubah
Di depan mikrofon.
Kukira aku bias jadi merak
Yang sanggup mengibarkan empat warna bulu
Kiranya aku Cuma tokek
Dengan vocal yang bikin orang kesal
Aku lihat diriku berubah di depan mikrofon.
Sering kurasakan diriku
Seperti seekor kadal yang ingin terkenal
Tapi kadang-kadang mirip burung beo
Dengan cara berdiri dan bicara
Yang senantiasa salah tingkah.
Aku lihat diriku berubah di depan mikrofon.
Di depan banyak orang aku jadi domba kampong
Yang memperindah-indah bahasa
Atau monyet genit yang lebar hidungnya
Tapi yang paling sial adalah
Ketika aku terjemahkan diriku
 Jadi babi yang lupa diri.
Di depan mikrofon
 Pada hari Senin aku jadi burung merak,
Selasa tokek, Rabu berkarung, Kamis beo,
Jumat domba, Sabtu monyek, dan Ahad babi.
Sepanjang minggu dalam diriku telah kuciptakan sebuah kebun binatang.
Aku ingin bertanya pada angin
Bagaimana cara dia menghadapi mikrofon ini

PIAGAM PERDAMAIAN



Karya : Tri Puji Asih

Jika ada waktu, kirimi akubulldozer
Agar dapat kugilas rasa takutku
Membaca berita demi berita, tanda demi tanda
Dalam koran saban pagi
Atau kurung aku dalam ruang peredam suara
Agar tak bisa kudengar tembang-tembang sedih
Dan sandiwara serta berita-berita
Penemuan rumus-rumus penghancur sesama

Sebab hati manusia seperti telah menjelma
Daerah terlarang,tempat menyimpan roket-roket,
Tank, pesawat pembom, dan meriam

Kapankah perdamaian bukan hanya deretan kata-kata
Yang dijejer di atas piagam?
Di mana perang adalah cara untuk memperebutkannya
Kapankah perdamaian bukan hanya suara yang berkumandang?
Sedangkan perang masih terus berkepanjangan

Jika ada waktu, kirimkan aku ke tanah-tanah pengasingan
Tempat burung-burung merpati tak kuat lagi
Terbang
Terbuang
Aku ingin ikut menggigil
Menunggu saat bom nuklir diledakkan

SURAT AMPLOP PUTIH UNTUK SEKJEN PBB



Karya : Taufik Ismail

Kepada sekjen Boutrus-boutrus Ghali
Dulu aku pada PBB percaya pebuh sekali
Ketika Haji Agus Salim, Sjahrir, Soedjatmiko
Ke sana pergi berdiplomasi
Memperjuangankan RI di zaman revolusi
Lalu pada PBB datanglah ke diriku keraguan- raguan
Ketika perang Vietnam berlarut berkepanjangan
Berikut selusin invasi lainnya lagi
Kini pada PBB aku tidak percaya lagi
Menilik caramu mendistribusi raveto dan memilih negeri
Melihat caramu mengurus masalah Palestina, Afganistan, 
Perang Teluk,Kashmir, Myanmar, dan Bosnia Herzegovina ini
Karena serakah pada uang dan minyak bumi
Berbondong-bondong dulu kalian mengirim pasukan dan senjata
Ke negeri sebesar telapak kaki, tapi kaya raya
Dan memperagakan oto kalian dengan congkak di media
Lalu mengeruk dolar bermilyar yang jadi upahnya
Karena tak ada uang dan tiada minyak bumi
Kalian kirim pasukan asal-asalan saja kini
Padahal inilah negeri yang kecil dan tak berdaya
Si alit yang lemah Bosnia Herzegovina
Telah dibantai di sana berpuluh ribu manusia tanpa senjata
Beribu perempuan digilas kehormatan utamanya
Beratus kanak-kanak dipotong tangan dan kakinya
Beribu orang jadi kerangka berkulit di kamp konsentrasi
Berates ribu diusir, mengungsi, terancam dingin dan mati
Tak kudengar kalian dengan penuh semangat melindungi mereka
Bersama surat ini, kukirimkan ludahku
Di pinggir amplop berwarna putih bersih
Yang kutulis dengan
Hati yang sangat sedih

YANG TAK TAMPAK



Karya : Evi Idawati

Yang tak tampak olehmu
Kesedian adalah pil sehat kehidupan
Pahit adalah vitamin untuk merasakan manisnya penderitaan
Jika badan kita luka
Terkelupas kulit dan daging
Menjadi borok dan bernanah
Suatu hari akan mongering
Hanya bekas yang tersisa
Tapi luka yang menghujam hati
Memukul sanubari
Akankah sirna?
Dia selalu ada selama kita bisa merasakan gembira
Yang tak tampak olehmu
Duka menghimpit dada
Dia menikam paru-paru
Akan terasa sesak jika diam
Untuk berjalan beban berat menghalang
Tak akan bisa kita berlari mrnjauhi
Dai menjumpaimu
Tidak sekarang
Di lain waktu
Selama kita memiliki
Selama kita mencintai
Yang tak tampak olehmu
Bersama perputaran waktu
Sepanjang usia kita
Duka dan bahagia
Satu rasa