Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Januari 2013

ELEGI



Karya : D. Zawawi Imron

Indonesia! Karena aku lahir di pangkuanmu, aku adalah anakmu
Aku ini membaca redup wajahmu. Segumpal mendung menutup dirimu
Air matamu mengalir seperti sungai panjang menggali luka dalam diriku
Dan burung-burung gelatik yang cantik terbang di atas sawah yang luas
Suaranya mencericit menampung napas-napas yang letih
Itu pun berbaur dengan teriak gagak
Yang mengabarkan bangkai anak- anakmu yang tak bersalah
Kelelawar-kelelawar hitam simpang siur di udara
Memekik-mekik karena diusir cerobong-cerobong perkasa
Kalau mereka lari ke hutan, hutan pun sedang terbakar
Tuhan ! Ampunilah kami karena kami masih tersesat di jalan terang
“Adik-adik yang manis! Jangan mandi di situ,
Air sungai itu bercampur limbah.
Nanti kalau kamu dewasa, kulitmu tak sempurna sebagai anak Indonesia
Aku tak ingin, kamu jadi orang asing di tanah kelahiranmu sendiri.”
Aku terkenang sebuah taman. Gundukan-gundukan tanah.
Aku yakin jasad-jasad yang jadi tulang belulang di situ lebih wangi dari bunga
Merekalah yang 50 tahun yang lalu tersungkur sambil berteriak”Merdeka!”
Dan merekalah tanah tumpah darah kami
Inilah tanah yang buncah ombaknya tak kunjung usaimenyebut nama Tuhan
Pohon-pohon dan sungai dan kerikil dan kuda-kuda yang menderita,
Dan menjahit kain sarungyang compang-camping.
Ada pun yang akan terjadi, Indonesia! Kami tetap anak-anakmu
Pemilik daratan hijau dan gunung batu
Di atas cadik yang memanjat gelombang
Kami tetap bernyanyi agar matahari esok lebih ramah lagi
Maka, di ceruk lembah itu akan kami galisebuah sumur
Dan semua orang silakan meneguk sejuk nuraninya sendiri di situ
Dan bendera itu semakin damai berkibar
Dikipas rahmat Tuhan
Dan syukur kami yang tak kunjung henti     

JALAN MENUJU RUMAHMU



Karya : Acep Zamzam Noor

Jalan menuju rumahmu kian memanjang
Udara berkabut dan dingin subuh
Membukus perbukitan. Aku menggelepar
Di tengah salak anjing dan ringkik kuda :
Engkau di mana? Angin mengupas lembar-lembar
Kulitku dan terbongkarlah kesepian dari tulang-tulang
Rusukku. Bulan semakin samar dan gemetar
Aku menyusuri pantai, menghitung lokan dan bicara
Pada batu karang. Jalan menuju rumahku kian lengang
Udara semakin tiris dan langit menaburkan serbuk gerimis
Aku pun mengalun bersama gelombang
Meliuk mengikuti topan dan jumpalitan
Bagai ikan. Tapi matamu kian tak tergambarkan
Kukit-kulit kayu, daun-daun lontar, kertas-kertas tak lagi
Menuliskan igauanku. Semua beterbangan dan hangus
Seperti putaran waktu. Kini tak ada lagi sisa
Tak ada lagi yang tinggal pada pasir dan kelopakku
Kian runcing dan pucat. Kembali aku bergulingan
Bagai cacing dan pucat. Bersujud lama sekali
Engkau siapa? Sebab telah kutatah nisan yang indah
Telah kutulis sajak-sajak paling sunyi

MIKROFON



Karya : Taufik Ismail
Aku lihat diriku berubah
Di depan mikrofon.
Kukira aku bias jadi merak
Yang sanggup mengibarkan empat warna bulu
Kiranya aku Cuma tokek
Dengan vocal yang bikin orang kesal
Aku lihat diriku berubah di depan mikrofon.
Sering kurasakan diriku
Seperti seekor kadal yang ingin terkenal
Tapi kadang-kadang mirip burung beo
Dengan cara berdiri dan bicara
Yang senantiasa salah tingkah.
Aku lihat diriku berubah di depan mikrofon.
Di depan banyak orang aku jadi domba kampong
Yang memperindah-indah bahasa
Atau monyet genit yang lebar hidungnya
Tapi yang paling sial adalah
Ketika aku terjemahkan diriku
 Jadi babi yang lupa diri.
Di depan mikrofon
 Pada hari Senin aku jadi burung merak,
Selasa tokek, Rabu berkarung, Kamis beo,
Jumat domba, Sabtu monyek, dan Ahad babi.
Sepanjang minggu dalam diriku telah kuciptakan sebuah kebun binatang.
Aku ingin bertanya pada angin
Bagaimana cara dia menghadapi mikrofon ini

PIAGAM PERDAMAIAN



Karya : Tri Puji Asih

Jika ada waktu, kirimi akubulldozer
Agar dapat kugilas rasa takutku
Membaca berita demi berita, tanda demi tanda
Dalam koran saban pagi
Atau kurung aku dalam ruang peredam suara
Agar tak bisa kudengar tembang-tembang sedih
Dan sandiwara serta berita-berita
Penemuan rumus-rumus penghancur sesama

Sebab hati manusia seperti telah menjelma
Daerah terlarang,tempat menyimpan roket-roket,
Tank, pesawat pembom, dan meriam

Kapankah perdamaian bukan hanya deretan kata-kata
Yang dijejer di atas piagam?
Di mana perang adalah cara untuk memperebutkannya
Kapankah perdamaian bukan hanya suara yang berkumandang?
Sedangkan perang masih terus berkepanjangan

Jika ada waktu, kirimkan aku ke tanah-tanah pengasingan
Tempat burung-burung merpati tak kuat lagi
Terbang
Terbuang
Aku ingin ikut menggigil
Menunggu saat bom nuklir diledakkan

SURAT AMPLOP PUTIH UNTUK SEKJEN PBB



Karya : Taufik Ismail

Kepada sekjen Boutrus-boutrus Ghali
Dulu aku pada PBB percaya pebuh sekali
Ketika Haji Agus Salim, Sjahrir, Soedjatmiko
Ke sana pergi berdiplomasi
Memperjuangankan RI di zaman revolusi
Lalu pada PBB datanglah ke diriku keraguan- raguan
Ketika perang Vietnam berlarut berkepanjangan
Berikut selusin invasi lainnya lagi
Kini pada PBB aku tidak percaya lagi
Menilik caramu mendistribusi raveto dan memilih negeri
Melihat caramu mengurus masalah Palestina, Afganistan, 
Perang Teluk,Kashmir, Myanmar, dan Bosnia Herzegovina ini
Karena serakah pada uang dan minyak bumi
Berbondong-bondong dulu kalian mengirim pasukan dan senjata
Ke negeri sebesar telapak kaki, tapi kaya raya
Dan memperagakan oto kalian dengan congkak di media
Lalu mengeruk dolar bermilyar yang jadi upahnya
Karena tak ada uang dan tiada minyak bumi
Kalian kirim pasukan asal-asalan saja kini
Padahal inilah negeri yang kecil dan tak berdaya
Si alit yang lemah Bosnia Herzegovina
Telah dibantai di sana berpuluh ribu manusia tanpa senjata
Beribu perempuan digilas kehormatan utamanya
Beratus kanak-kanak dipotong tangan dan kakinya
Beribu orang jadi kerangka berkulit di kamp konsentrasi
Berates ribu diusir, mengungsi, terancam dingin dan mati
Tak kudengar kalian dengan penuh semangat melindungi mereka
Bersama surat ini, kukirimkan ludahku
Di pinggir amplop berwarna putih bersih
Yang kutulis dengan
Hati yang sangat sedih