Selasa, 22 Januari 2013

Ketajamanan foto / Sharpness



Banyak orang yang menginginkan fotonya terlihat tajam, tapi apa sih sebenarnya ketajaman itu? dan bagaimana cara untuk mengendalikannya? Di forum-forum internet, banyak yang membicarakan tentang ketajaman, kebanyakan ingin lensa atau kamera yang paling tajam. Sharppest image is the best!

Kalau dilihat dari segi artistik, ketajaman bukan segala-galanya. Tajam / Lembut, semua tergantung foto dgn kesan yang ingin disampaikan. Misalnya tajam memberikan kesan maskulin yang tegas dan foto yang lembut memberikan kesan feminin, tapi juga bisa memberikan kesan sesuatu yang dinamis/gerakan/mengalir.

Biasanya ketajaman dipentingkan untuk fotografi landscape/pemandangan, untuk memunculkan detail2 dan tekstur alam seperti daun, pohon, air, dll. Ketajaman justru dihindari saat foto portrait kecantikan karena jerawat, pori2, keriput akan terlihat menonjol.
Soft - Sharp

Ketajaman (Sharpness) itu hasil perkawinan dengan resolusi (detail) dan kontras (kemampuan menangkap terang gelap). Untuk membuat foto yang tajam, kita butuh lensa & kamera yang sesuai. Biasanya, harga lensa dan kameranya cukup mahal. Kamera & lensa Nikon biasanya menghasilkan foto yang lebih tajam dari Canon, Sony, dll. tapi harganya juga diatas rata-rata.

Lensa dan kamera Canon biasanya menghasilkan hasil yang lebih lembut, warnanya lebih alami terutama untuk kulit manusia. Oleh sebab itu, banyak yang sering komentar, Canon cocok untuk foto portrait, Nikon untuk foto landscape/outdoor.

Lensa pihak ketiga seperti Zeiss, Leica sangat terkenal ketajamannnya. Lensa Zeiss sedikit lebih biru tonenya dibanding lensa merek lain. Harga-harga lensa Zeiss dan Leica jauh lebih tinggi daripada yang lensa merek lain. Kalau Lensa Sigma dan Tamron, ada beberapa lensa buatan mereka yang sangat tajam, tapi kebanyakan tidak setajam lensa Canon, Nikon. Lensa buatan Tokina lumayan tajam, dan terkenal sebagai pembuat lensa lebar yang bagus.

Untuk yang memiliki dana terbatas, cari lensa fix seperti lensa 50mm, hasilnya fotonya tajam, apalagi saat bukaan yang dipakai sekitar f/5.6. Lensa zoom juga bisa dioptimalkan supaya tajam, yaitu memakai bukaan sekitar f/8 dan dipakai saat kondisi lingkungan yang terang. Di dalam ruangan atau kondisi cahaya yang gelap, lampu kilat atau lampu continuous bisa membantu.

Foto yang telah dibuat juga bisa sedikit dipertajam atau dibuat lembut dengan pengolah foto seperti Photoshop.  Hati-hati dalam mengunakan ISO tinggi, karena bisa mengurangi ketajaman. Usahakan mengunakan ISO 100-200. Untuk kamera DSLR terbaru, ISO 400-800 juga sudah cukup baik.

Sebaliknya, Hasil foto yang lembut, bisa dibuat dengan bukaan yang relatif besar, seperti f/3.5, f/2.8, f/1.8, f/1.4. Mengunakan soft/diffusion filter, dapat membuat foto menjadi lebih lembut dengan sisi-sisi yang tajam. Tapi hati-hati dengan filter soft diffusion berkualitas rendah (baca: murah) karena akan membuat keseluruhan foto menjadi blur.

Menurut hemat saya, kita tidak harus terlalu terobsesi dengan ketajaman foto.  Tidak semua foto harus tajam. Jika kita melihat foto dari jarak yang pas, foto kita akan terlihat tajam meski hanya mengunakan kamera dan lensa yang biasa saja. Foto yang dikecilkan misalnya untuk dipajang di blog atau facebook akan terlihat lebih tajam daripada yang dicetak dalam ukuran cetak yang besar. Tapi jika kita sudah terobsesi dan sering menginspeksi foto sampai ukuran pixel/100%. Siap-siaplah menguras kantong untuk membeli kamera dan lensa atau lampu kilat yang relatif mahal

Mengendalikan cahaya lingkungan dengan shutter speed



Saat mengunakan lampu kilat, cara mengendalikan terang gelapnya cahaya lingkungan adalah dengan mengunakan shutter speed. Jika cahaya lingkungan agak lemah, seperti pada sore hari menjelang matahari terbenam, atau hari yang sangat kelabu, kita bisa melambatkan shutter speed supaya cahaya lingkungan lebih terang.
Bagaimana dengan ISO dan Diafragma/Aperture? ISO dan Aperture juga bisa mengendalikan cahaya lingkungan, tapi tidak hanya itu, ISO dan Aperture akan mempengaruhi intensitas flash. Oleh karena itu, jika kita hanya ingin mengendalikan cahaya lingkungan(background) saja, maka gunakanlah shutter speed.

Di foto, saya coba mengendalikan cahaya lingkungan dengan mengatur shutter speed yang cukup lambat yaitu 1/25 detik. Lampu kilat dipasang kanan dan kiri dengan payung fotografi.  Jika shutter speed saya pasang lebih cepat, misalnya 1/100 detik, latar belakang akan gelap total.
Meskipun shutter speed hanya 1/25 detik, dan saya memakai lensa 85mm, yang biasanya mengakibatkan subjek foto blur karena shutter speed terlalu lambat, tetapi dalam kasus ini, dengan mengunakan flash, subjek akan tetap tajam, karena lampu kilat yang durasinya sangat pendek (diatas 1/880 detik) akan sukses membekukan subjek.
Foto diambil saat di lokasi dengan cahaya alami dan buatan di Medan, Sumut

Mengoptimalkan hasil foto melalui pemilihan kamera dan lensa



Kadang-kadang, saya mendengar argumen seperti ini:
“Percuma pakai lensa DSLR berkualitas tinggi kalau kamera DSLR yang dipakai berkualitas rendah”
Apakah hal tersebut benar? Kebanyakan lensa berkualitas tinggi seperti Canon seri L, atau lensa Nikon bertanda cincin emas dibuat untuk kamera DSLR bersensor full frame yang berkualitas tinggi. Kamera tersebut contohnya Canon 5D atau Nikon D700, D3, dst.
Lensa berkualitas tinggi jika dipasang di kamera DSLR yang bersensor kecil (APS-C) akan menghasilkan foto yang lebih baik secara teknis (lebih tajam, kontras, mulus, dll). Tapi tapi peningkatannya tidak terlalu signifikan. Pemakaian lensa kualitas tinggi yang besar dan berat juga kurang efisien karena lingkaran lensanya lebih besar daripada sensor kamera, sehingga ada bagian lensa yang tidak terpakai (ter-krop).  Akibatnya kita membayar lebih untuk hal yang kita tidak butuhkan dan juga menambah beban kita.

Lingkaran merah merupakan lensa full frame, sedangkan yang hijau lensa DX/EF-S
Maka dari itu, jika kita berencana mengunakan kamera bersensor APS-C/krop, lebih baik kita mempertimbangkan lensa berkategori DX (istilah Nikon), EF-S (istilah Canon), DC (istilah Sigma). Hal ini dikarenakan ukurannya lebih ringan (juga ringan dikantong). Diameter lensa juga lebih kecil, jadi membeli filter yang cocok jauh lebih murah.
Namun, kekurangan lensa untuk kamera bersensor APS-C ada dua:
  1. Tidak terlalu banyak pilihan untuk lensa berkualitas tingginya.
  2. Tidak cocok dipakai jika kita mengganti badan kamera DSLR kita ke kamera DSLR bersensor full-frame.
Maka dari itu, saya menyarankan kepada produsen kamera untuk terus menambahkan lensa-lensa untuk kamera bersensor APS-C terutama yang berkualitas tinggi.

Lensa 24-120mm kurang cocok untuk kamera DSLR bersensor APS-C karena kurang efisien, relatif berat, kurang lebar, harganya hampir dua kali lipat, kualitas foto hampir sama, Di kamera Canon juga ada lensa serupa yaitu EF 24-105mm & EF-S 15-85mm
Lalu saya juga sering mendengar argumen dibawah ini:
“Kalau sudah pakai kamera DSLR berkualitas tinggi sayang kalau cuma pakai lensa yang berkualitas rendah.”
Jika kita memakai kamera DSLR berkualitas dengan sensor full frame, meski dengan lensa berkualitas biasa-biasa saja, kualitas foto akan meningkat. Tapi peningkatan kualitas foto juga tidak signifikan.
Untuk beberapa lensa malah mengalami penurunan ukuran dan kualitas. Lensa Nikon DX yang berukuran diameter pendek, jika dipasang di kamera full frame Nikon, ukuran fotonya akan terkrop menjadi kecil. Optimalnya, jika kita memiliki kamera full frame adalah mengunakan lensa berkualitas tinggi.
Solusi alternatif
Jika kita peduli dengan kualitas teknis foto, maka lensa fix (yang tidak bisa zoom) merupakan solusi alternatif yang baik. Karena desainnya lebih sederhana, lensa fix lebih ringan, berbukaan besar dan menghasilkan foto yang lebih tajam daripada sebagian besar lensa zoom. Sebagian lensa fix juga tidak terlalu mahal.
Sebagian besar lensa fix memang di desain khusus untuk kamera full frame, jadinya juga gak efisien untuk kamera bersensor kecil. Tapi karena ukurannya yang tidak terlalu besar dan berat, saya rasa tidak terlalu masalah. Kedua format kamera akan mendapatkan foto dengan kualitas yang optimal.
Memang akhirnya yang ideal adalah memakai kamera berkualitas tinggi dengan lensa berkualitas tinggi juga. Tapi sebagian besar dari kita mungkin belum memiliki dana yang cukup untuk membelinya. Maka itu kita perlu menyusun prioritas yang bijak.
Bagaimana rekomendasi saya?
  • Skenario 1 : Punya kamera berkualitas rendah, duit pas-pasan : Lensa fix atau lensa zoom DX/EF-S
  • Skenario 2 : Punya kamera berkualitas rendah, duit banyak : Lensa fix atau beli kamera DSLR full frame
  • Skenario 3 : Punya kamera berkualitas tinggi, duit pas-pasan : Lensa fix
  • Skenario 4 : Punya kamera berkualitas tinggi, duit banyak : Lensa zoom berkualitas tinggi

Rekomendasi lensa untuk kamera DSLR Canon



Karena banyak sekali pertanyaan-pertanyaan ke saya tentang rekomendasi lensa untuk kamera tertentu, maka saya mendedikasikan tulisan ini untuk menjawab pertanyaan saudara-saudara. Harap diingat kalau rekomendasi ini berdasarkan lensa yang tersedia sampai hari ini dan harga hanya perkiraan saja dan bisa berubah.

Rekomendasi lensa untuk kamera Canon 1000D, 1100D, 450D, 500D, 550D, 600D, 650D
  • Canon EF 50mm f/1.8 Rp 700-800rb – Sulit untuk tidak merekomendasikan lensa mungil dan murah ini. Termasuk lensa termurah tapi nilai kualitas yang diberikan sangat baik, terutama untuk foto portrait.
  • Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS Rp 2 juta – Lensa telefoto yang terjangkau tapi hasil yang diperoleh cukup lumayan. Biasanya digunakan untuk foto potret, candid, satwa liar dll.
  • Sigma 10-22mm f/4-5.6 HSM Rp 5.3 juta – Lensa lebar untuk foto pemandangan, arsitektur, liputan acara.
  • Sigma 17-50mm f/2.8 OS HSM Rp 6.2 juta – Lensa praktis untuk foto di kondisi cahaya yang gelap dan efektif membuat latar belakang kabur.
  • Canon EF-S 60mm f/2.8 USM Macro Rp 4 juta – Lensa makro buat foto detail produk, serangga, bunga, makanan dan lain-lain

Rekomendasi lensa untuk kamera Canon 40D, 50D, 60D, 7D
  • Canon EF-S 10-20mm f/3.5-5.6 Rp 6 juta – Lensa lebar untuk foto pemandangan, arsitektur, liputan acara.
  • Canon EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM Rp 6.5 juta – Lensa untuk kegiatan sehari-hari yang lebih praktis dan lebih tajam daripada lensa zoom biasa.
  • Canon EF-S 17-55mm f/2.8 IS USM Rp 8.7 juta – Lensa praktis serbaguna, mantap di kondisi cahaya yang kurang baik.
  • Canon EF 70-200mm f/4 atau f/2.8 IS Rp 10.4  - 19 juta – Lensa telefoto untuk acara keluarga, potret, satwa liar, candid dsb. Saya menyarankan versi yang ada IS bila dana mencukupi.
  • Canon EF-S 60mm f/2.8 USM Macro Rp 4 juta – Lensa makro buat foto detail produk, serangga, bunga, makanan dan lain-lain
  • Canon EF 85mm f/1.8 USM Rp. 3.2 juta – Lensa ini auto fokusnya sangat cepat dan hasilnya lembut, cocok untuk foto potret kecantikan, candid atau acara olahraga di dalam ruangan seperti bola voli.

Rekomendasi lensa untuk kamera Canon 5D mk II, III, Canon 1D dan 1Ds series
  • Canon EF 16-35mm f/2.8 Rp 13.4 juta – Lensa lebar untuk foto pemandangan, arsitektur, liputan acara.
  • Canon EF  24-70mm f/2.8 Rp 12 juta – Lensa praktis untuk foto di kondisi cahaya yang gelap dan efektif membuat latar belakang kabur.
  • Canon EF 70-200mm f/2.8 IS Rp 19 juta – Lensa telefoto untuk acara keluarga, potret, satwa liar, candid dsb.
  • Canon EF 50mm f/1.2 – Rp 13.3 juta Lensa berbukaan sangat besar ini baik untuk potret kecantikan dan kondisi cahaya yang sangat gelap
  • Sigma 85mm f/1.4 HSM Rp 8 juta – Lensa fix spesialis potret kecantikan atau candid
  • Canon EF 100mm f/2.8 L IS USM Macro Rp 7.3 juta – Lensa makro buat foto detail produk, serangga, bunga, makanan dan lain-lain