Kamis, 06 November 2014

Perkembangan Kelompok sosial dalam masyarakat multikultural

A. Faktor Penyebab Timbulnya Masyarakat Multikultural di Indonesia

1. Keragaman Suku Bangsa
            Negara Indonesia adalah Negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil. Luasnya sekitar dua juta kilometer persegi. Terdapat sekitar 1.377 buah pulau. Pulau – pulau tersebut hampir semuanya dihuni oleh penduduk. Ada beberapa pulau-pulau kecil dan terasing yang belum ada penduduknya. Pulau satu dengan lainnya dipisahkan oleh laut atau selat.
            Bangsa Indonesia terdiri atas banyak sekali suku bangsa. Ada beraneka ragam suku bangsa di Kepulauan Indonesia. Tidak kurang dari 300 suku bangsa mendiami Kepulauan Indonesia, tetapi semuanya bergabung menjadi satu, yaitu satu bangsa Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika, itulah semboyan Negara kita. Berbeda-beda suku bangsa, tetapi tetap satu bangsa Indonesia.
Menentukan persebaran suku bangsa di Indonesia tidaklah mudah. Merujuk dari pendapat R. Naroll dan J.A. Cllifton, Koentjaraningrat menyebutkan ada beberapa prinsip yang dapat digunakan untuk menentukan batas-batas persebaran suku bangsa, termasuk kebudayaan-kebudayaan yang dimilikinya. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut.

1)      Kesatuan masyarakat yang dibatasi oleh satu desa atau lebih.
2)      Kesatuan masyarakat yang terdiri dari penduduk yang mengucapkan satu bahasa atau satu logat bahasa.
3)      Kesatuan masyarakat yang dibatasi oleh garis batas suatu daerah politikal administratif.
4)      Kesatuan masyarakat yang batasnya ditentukan oleh rasa identitas penduduknya sendiri.
5)      Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh suatu wilayah geografis yang merupakan kesatuan daerah fisik.
6)      Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh kesatuan ekologi.
7)      Kesatuan masyarakat dengan penduduk yang mengalami satu pengalaman sejarah yang sama.
8)      Kesatuan masyarakat dengan penduduk yang frekuensi interaksinya satu dengan yang lain tinggi.
9)      Kesatuan masyarakat dengan susunan sosial yang seragam.

Lalu, bagaimana pembagian suku bangsa yang ada di Indonesia? Menurut beberapa ahli, pembagian suku bangsa yang tersebar di seluruh Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut.

Suku-Suku Bangsa Yang Mendiami Kepulauan Indonesia

No.
Provinsi
Nama Suku
1
Nangroe Aceh Darussalam
Aceh, Gayo, Alas, Kluet, Tamiang, Singkil, Anak Jame, Simeleuw, dan Pulau
2
Sumatera Utara
Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Fakfak, Batak Angkola, Batak Toba, Melayu, Nias, Batak Mandailing, dan Maya-maya
3
Sumatera Barat
Minangkabau, Melayu, dan Mentawai, Tanjung Kato, Panyali, Caniago, Sikumbang, dan Gusci
4
Riau
Melayu, Akit, Talang Mamak, Orang utan Bonai, Sakai, dan Laut, dan Bunoi
5
Riau Kepulauan
Melayu, Siak, dan Sakai
6
Jambi
Batin, Kerinci, Penghulu, Pedah, Melayu, Jambi, Kubu, dan Bajau
7
Bengkulu
Muko-muko, Pekal, Serawai, Pasemah, Enggano, Kaur, Rejang, dan Lembak
8
Sumatera Selatan
Melayu, Kikim, Semenda, Komering, Pasemah, Lintang, Pegagah, Rawas, Sekak Rambang, Lembak, Kubu, Ogan, Penesek Gumay, Panukal, Bilida, Musi, Rejang, dan Ranau
9
Lampung
Pesisir, Pubian, Sungkai, Semenda, Seputih, Tulang Bawang, Krui Abung, dan Pasemah
10
Bangka Belitung
Bangka, Melayu, dan Tionghoa
11
Banten
Baduy, Sunda, dan Banten
12
DKI Jakarta
Betawi
13
Jawa Barat
Sunda
14
Jawa Tengah
Jawa, Karimun, dan Samin
15
D.I. Yogyakarta
Jawa
16
Jawa Timur
Jawa, Madura, Tengger, dan Osing
17
Bali
Bali Aga dan Bali Majapahit
18
Nusa Tenggara Barat
Bali, Sasak, Samawa, Mata, Dongo, Kore, Mbojo, Dompu, Tarlawi, dan Sumba
19
Nusa Tenggara Timur
Sabu, Sumba, Rote, Kedang, Helong, Dawan, Tatum, Melus, Bima, Alor, Lie, Kemak, Lamaholot, Sikka, Manggarai, Krowe, Ende, Bajawa, Nage, Riung, dan Flores
20
Kalimantan Barat
Kayau, Ulu Aer, Mbaluh, Manyuke, Skadau, Melayu-Pontianak, Punau, Ngaju, dan Mbaluh
21
Kalimantan Tengah
Kapuas, Ot Danum, Ngaju, Lawangan, Dusun, Maanyan, dan Katingan
22
Kalimantan Selatan
Ngaju, Laut, Maamyan, Bukit, Dusun, Deyah, Balangan, Aba, Melayu, Banjar, dan Dayak
23
Kalimantan Timur
Ngaju, Otdanum, Apokayan,Punan, Murut, Dayak, Kutai, Kayan, Punan, dan Bugis
24
Sulawesi Selatan
Mandar, Bugis, Toraja, Sa’dan, Bugis, dan Makassar
25
Sulawesi Tenggara
Mapute, Mekongga, Landawe, Tolaiwiw, Tolaki, Kabaina, Butung, Muna, Bungku, Buton, Muna, Wolio, dan Bugis
26
Sulawesi Barat
Mandar, Mamuju, Bugis, dan Mamasa
27
Sulawesi Tengah
Buol, Toli-toli, Tomini, Dompelas, Kaili, Kulawi, Lore, Pamona, Suluan, Mori, Bungku, Balantak, Banggai, dan Balatar
28
Gorontalo
Gorontalo
29
Sulawesi Utara
Minahasa, Bolaang Mangondow, Sangiher Talaud, Gorontalo, Sangir, Ternate, Togite, Morotai, Loda, Halmahera, Tidore, dan Obi
30
Maluku
Buru, Banda, Seram, Kei, dan Ambon
31
Maluku Utara
Halmahera, Obi, Morotai, Ternate, dan Bacan
32
Papua Barat
Mey Brat, Arfak, Asmat, Dani, dan Sentani
33
Papua
Sentani, Dani, Amungme, Nimboran, Jagai, Asmat, dan Tobati

Suku-suku di atas adalah suku-suku asli Indonesia. Masih ada suku atau bangsa lain yang ada di Indonesia. Misalnya bangsa Cina, Arab, India, Jepang, Belanda, Malaysia, Australia, Amerika, dan Melayu. Mereka adalah suku bangsa asing. Ada yang menetap ada yang hanya sementara untuk kepentingan dagang. Pada umumnya mereka bertempat tinggal di kota namun kita harus tetap satu dan bersatu.
            Perbedaan suku bangsa tersebut tentu saja berbeda pula adat istiadat dan kebudayaannya. Itulah sebabnya, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang multicultural.
Koentjaraningrat dalam bukunya, Pengantar Antropologi (1959), membagi wilayah Indonesia ke dalam 19 daerah hokum adat berikut ini :
1.      Aceh
2.      Gayo – Alas dan Batak
3.      Minangkabau
4.      Sumatra Selatan
5.      Melayu
6.      Bangka dan Belitung
7.      Kalimantan
8.      Sangir – Talaud
9.      Gorontalo
10.  Toraja
11.  Sulawesi Selatan
12.  Ternate
13.  Ambon – Maluku
14.  Irian
15.  Timor (Nusa Tenggara)
16.  Bali dan Lombok
17.  Jawa Tengah dan Jawa Timur
18.  Surakarta dan Yogyakarta
19.  Jawa Barat dan Banten

Masyarakat Indonesia beraneka ragam dalam suku bangsa. Suku-suku bangsa tersebut hidup membaur dan menyebar di seluruh wilayah Kepulauan Indonesia. Daerah Khusus Ibukota Jakarta merupakan tempat pembauran dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia. Pembauran tersebut dapat terjadi oleh karena bangsa Indonesia memiliki ideologi yang mempersatukan bangsa dan tanah air, yakni Pancasila.




Berkaitan dengan perbedaan identitas dan konflik sosial muncul tiga kelompok sudut pandang yang berkembang, yaitu:
1. Pandangan Primordialisme
            Kelompok ini menganggap perbedaan-perbedaan yang berasal dari genetika seperti suku, ras, agama merupakan sumber utama lahirnya benturan-benturan kepentingan etnis maupun budaya.
2. Pandangan Kaum Instrumentalisme
            Menurut mereka, suku, agama, dan identitas yang lain dianggap sebagai alat yang digunakan individu atau kelompok untuk mengejar tujuan yang lebih besar baik dalam bentuk materiil maupun nonmateriil.
3. Pandangan Kaum Konstruktivisme
            Kelompok ini beranggapan bahwa identitas kelompok tidak bersifat kaku, sebagaimana yang dibayangkan kaum primordialis. Etnisitas bagi kelompok ini dapat diolah hingga membentuk jaringan relasi pergaulan sosial. Oleh karena itu, etnisitas merupakan sumber kekayaan hakiki yang dimiliki manusia untuk saling mengenal dan memperkaya budaya. Bagi mereka persamaan adalah anugerah dan perbedaan adalah berkah.

2. Keragaman Budaya Daerah
            Ada ratusan suku bangsa di Indonesia. Hampir setiap suku mempunyai kebudayaan tersendiri. Mereka mempunyai adat-istiadar, kebiasaan, agam, bahasa yang berbeda. Keragaman ini disebabkan beberapa faktor seperti letak geografis dan iklim.
a.      Lingkungan alam geografis.
Indonesia merupakan negara yang sangat luas yang terdiri dari kepulauan.Di samping itu, Indonesia juga merupakan negara vulkanis dengan banyak pegunungan, baik gunung berapi ataupun yang bukan berapi. Karena kedua faktor tadi, maka di Indonesia terjadi isolasi geografi . Isolasi geografi adalah pembatasan suatu daerah oleh karena keadaan alam, yaitu laut dan gunung.
-          Isolasi akibat laut menyebabkan munculnya hambatan dalam melakukan hubungan diantara masing-masing pulau, walaupun tidak sama sekali terputus. Masing-masing pulau kemudian berkembang sesuai dengan alam yang ada di sekitar daerahnya. Oleh karena itu, antara satu pulau dengan pulau lain mempunyai suku bangsa yang berbeda kebudayaannya. Contohnya antara pulau Kalimantan dengan pulau Sulawesi mempunyai suku bangsa dengan budaya yang berbeda-beda. Di Kalimantan terdapat suku bangsa dominan, yaitu suku Dayak. Sedangkan di Sulawesi terdapat banyak suku bangsa yang berbeda tanpa ada dominasi. Begitu pula antara pulau Jawa dengan pulau Bali yang dipisahkan oleh selat Bali. Walaupun dalam sejarah tercatat bahwa suku bangsa Bali berasal dari suku bangsa Jawa, tetapi dalam perkembangan budayaanya diantara kedua suku bangsa tersebut memiliki perbedaan.
-          Isolasi akibat gunung yang tinggi, sehingga menghambat hubungan antara satu daerah dengan daerah lain. Dalam satu pulau terdapat banyak suku bangsa karena adanya hambatan geografi yang berupa pegunungan.Pada dasarnya ada budaya yang masih sama, tetapi dapat pula terjadi perbedaan yang menyolok antara suku bangsa satu dengan suku bangsa lain dalam satu pulau. Contohnya di pulau Jawa terdapat suku bangsa Sunda dan Jawa. Kedua suku tersebut mempunyai kebudayaan yang berbeda, walaupun tetap ada beberapa bagian budaya yang masih sama.

b.      Iklim yang berbeda
Berdasarkan pembagian iklim matahari, iklim di Indonesia secara umum adalah berupa iklim tropis yang panas. Iklim yang ada di suatu daerah dapat berbeda dengan daerah lain, hal ini dinamakan dengan iklim setempat. Faktor iklim setempat dapat menyebabkan perbedaan tata cara hidup masyarakat. Hal ini memengaruhi pula pola perilaku masyarakatnya.
1.      Daerah yang mempunyai iklim yang panas dengan banyak sinar matahari dan curah hujannya akan menjadi daerah yang subur. Karena itu, masyarakat pada daerah seperti itu pola hidup dan mata pencahariannya adalah menjadi petani. Daerah-daerah pertanian pada umumnya terdapat di daerah dataran rendah. Banyak suku bangsa di Indonesia yang hidup di daerah dataran rendah dengan mata pencaharian utama sebagai petani. Oleh sebab itu, negara Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Sedangkan pada daerah yang berupa dataran tinggi dengan karakteristik seperti itu akan berkembang masyarakat yang hidup dengan berkebun. Masyarakat yang memiliki pola hidup petani misalnya pada suku Sunda, Jawa, dan Melayu yang pada umumnya berada di wilayah Indonesia bagian barat dan beberapa di daerah bagian tengah.
  1. Daerah dengan iklim panas tetapi sedikit turun hujan menyebabkan daerah tersebut kurang subur. Daerah ini banyak ditumbuhi semak belukar dan rumput, sehingga menjadi daerah padang rumput yang luas. Masyarakat yang tinggal di daerah seperti ini kemudian berkembang dengan pola hidup sebagai peternak. Mata pencaharian sebagai peternak menjadi pilihan utama karena alam mendukung usaha tersebut. Kondisi masyarakat seperti ini misalnya terjadi pada suku bangsa-suku bangsa di wilayah Nusa Tenggara, seperti Flores, Ende, Timor, Sumbawa, dan sebagainya.
  2. Daerah yang beriklim panas di pinggir-pinggir pantai menyebabkan masyarakatnya menjadi nelayan yang mengembangkan budaya menangkap ikan. Pola hidup sebagai nelayan tentu berbeda dengan pola hidup masyarakat yang mengolah tanah. Pada umumnya masyarakat yang tinggal di pantai hidup dengan budaya nelayan.
            Lingkungan tersebut mempengaruhi bentuk dana tingkat kebudayaan suatu daerah sehingga terjadi perbedaan antar kebudayaan suku atau kebudayaan daerah. Setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai nilai dan norma sosial budaya yang berbeda-beda. Karena itu, pola sikap, perilaku, adat istiadat, agama, dan pandangan hidup tiap-tiap suku bangsa berbeda-beda. Keragaman suku bangsa dan kebudayaan tersebut merupakan ciri khas identitas masyarakat Indonesia yang multikultural. Demikian pula etos budaya setiap suku bangsa di Indonesia tidaklah sama. Etos budaya artinya corak khas budaya masyarakat tertentu. Etos budaya suku bangsa Sunda, antara lain bersifat ramah-tamah, kekeluargaanm, suka basa-basi, menyenangi warna yang kontras, menggemari musik dan nyanyian yang sentimental, dan sebagainya. Berbeda dengan suku bangsa Betawi yang memiliki etos budaya hidup sederhana, fanatik dalam menjalankan agama Islam, mencari nafkah dengan berdagang kecil-kecilan, dan tidak suka hidup menggembara di daerah suku bangsa lain.
            Kita sebagai bangsa harus bangga karena bangsa indonesia kaya dengan kebudayaan daerah yang bernilai luhur. Oleh karena itu kita wajib membina, menjaga, dan melestarikan budaya Indonesia. Msing-masing budaya daerah wajiib mendukung terciptanya kebudayaan karena walaupun berbeda-beda, kita tetap satu yaitu kebudayaan Indonesia.
3. Keragaman Agama
Letak kepulauan Nusantara pada posisi silang di antara dua samudra dan dua benua, jelas mempunyai pengaruh yang penting bagi munculnya keanekaragaman masyarakat dan budaya. Dengan didukung oleh potensi sumber alam yang melimpah, maka Indonesia menjadi sasaran pelayaran dan perdagangan dunia. Apalagi di dalamnya telah terbentuk jaringan perdagangan dan pelayaran antarpulau.
Masuknya agama dapat memengaruhi perkembangan budaya pada suku-suku bangsa tertentu. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan-perbedaan pada budaya suku bangsa. Bangsa Indonesia pada zaman dahulu sudah mengenal kepercayaan yang berupa animisme dan dinamisme sebelum masuknya agama ke Indonesia. Perkembangan lebih lanjut ada sebagian dari masyarakat yang mencampuradukkan antara kepercayaan lokal dengan agama. Adapun proses masuknya dan perkembangan agama-agama di Indonesia akan diuraikan secara singkat sebagai berikut:
1.      Agama Hindu dan Budha masuk ke Indonesia hampir bersamaan. Tetapi pada bukti sejarah menyatakan bahwa agama Budha lebih dulu masuk ke Indonesia, baru kemudian agama Hindu. Hal ini dapat dilihat dari keberadaan candi yang menjadi simbol agama Hindu dan Budha. Agama Hindu berkembang pada masyarakat Bali dan Lombok. Sedangkan pengaruh agama Budha ada di sebagian masyarakat Jawa dan beberapa masyarakat di luar suku Jawa.
2.      Agama Islam pada awalnya masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang Gujarat dari India. Kemudian bangsa Arab datang ke Indonesia sambil melakukan perdagangan. Pengaruh agama Islam tampak nyata dalam perkembangan budaya di beberapa suku bangsa. Suku bangsa yang perkembangan budayanya dipengaruhi oleh agama Islam diantaranya adalah Suku Minangkabau, Aceh, Sunda, Banjar, Makassar, dan sebagainya.
3.      Agama Katolik yang dibawa oleh bangsa Portugis berkembang pesat pada suku bangsa Flores dan Timor.
4.      Agama Kristen memengaruhi kebudayaan di beberapa suku bangsa diantaranya adalah suku bangsa Ambon, Batak, Minahasa, dan sebagian suku bangsa lainya. Pada suku bangsa Jawa mempunyai keunikan tersendiri dengan berkembangnya semua agama dan kepercayaan pada masyarakatnya. Pada masyarakat Jawa terjadi perkembangan sinkretisme dari semua agama dan kepercayaan yang terwujud dalam budaya kejawen.
Dampak interaksi dengan bangsa-bangsa lain itu adalah masuknya beragam bentuk pengaruh agama dan kebudayaan. Selain melakukan aktivitas perdagangan, para saudagar Islam, Hindu, Buddha, juga membawa dan menyebarkan ajaran agamanya.
Apalagi setelah bangsa Barat juga masuk dan terlibat di dalamnya. Agama-agama besar pun muncul dan berkembang di Indonesia, dengan jumlah penganut yang berbeda-beda. Kerukunan antarumat beragama menjadi idam-idaman hampir semua orang, karena tidak satu agama pun yang mengajarkan permusuhan.
      Kehidupan beragam di Indonesia sejak dulu sampai sekarang dapat dikatakan rukun, saling menghormati, dan diwarnai rasa toleransi yang tinggi. Warga masyarakat antar penganut agama menjalin hubungan kerja sama dan tolong-menolong. Bahkan setiap kali kelompok umat agama tertentu yang sedang merayakan hari besar agamanya, di dalam kepanitiaan selalu ada umat dari kelompok agama lain yang ikut terlibat di dalamnya.
B. Karakteristik Masyarakat Multikultural di Indonesia
Dalam suatu masyarakat, kita pasti menemukan banyak kelompok masyarakat yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan-perbedaan karakteristik itu berkenaan dengan tigkat diferensiasi dan stratifikasi sosialnya. Masyarakat seperti ini disebut sebagai masyarakat multicultural. Masyarakat multicultural sering disebut juga masyarakat majemuk.
Menurut Pierre L. Van den Berghe, ada beberapa karakteristik masyarakat multikultural, di antaranya adalah sebagai berikut.
1.      Terjadinya segmentasi ke dalam bentuk-bentuk kelompok yang seringkali memiliki subkebudayaan yang berbeda satu dengan yang lain.
2.      Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembagalembaga yang bersifat nonkomplementer.
3.      Kurang mengembangkan konsensus di antara para anggota terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar.
4.      Secara relatif seringkali mengalami konflik antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya.
5.      Secara relatif, integrasi sosial tumbuh di atas paksaan dan saling ketergantungan di dalam bidang ekonomi.
6.      Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok yang lain.
Dari karakteristik masyarakat multikultural yang dikemukakan oleh Pierre L. Van den Berghe tersebut, masyarakat di Indonesia dapat digolong-golongkan dengan menggunakan tolok ukur secara horizontal dan vertikal. Secara horizontal atau lazim disebut dengan diferensiasi sosial ciri masyarakat multikultural didasarkan pada keanekaragaman ras, suku bangsa, dan agama. Sementara itu, secara vertikal atau lazim disebut dengan stratifikasi sosial, ciri masyarakat multicultural di antaranya dapat dilihat dari tolok ukur kriteria ekonomi, sosial, politik, dan masyarakat feodal. Penggolongan masyarakat Indonesia yang multikultural ini sekaligus menunjukkan adanya berbagai kelompok sosial yang ada dalam masyarakat tersebut.
Masyarakat multicultural adalah masyarakat yang terdiri atas beragam suku bangsa dan budaya. Masyarakat Indonesia tergolong masyarakat multicultural, karena sangat majemuk dalam suku bangsa, ras, klan, agama, mata pencaharian, adat-istiadat, golongan politik, dan sebagainya.
Walaupun masyarakat Indonesia sangat majemuk, tetapi hidup bersatu secara damai dan berdampingan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Masyarakat multicultural Indonesia ini oleh Mpu Tantular diungkapkan dengan istilah Bhineka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu.
Keragaman itu diakui atau tidak dapat menimbulkan berbagai persoalan seperti yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Korupsi, kolusi, nepotisme, premanisme, perseturuan politik, kemiskinan, kekerasan, sparatisme, dll. Adalah bentuk negative yang nyata dan sebagai bagian dari multikulturalisme ini.
Seperti halnya bangsa Indonesia, kemajemukan suku merupakan salah satu ciri masyarakat Indonesia yang sering dibanggakan. Banyak orang yang belum juga menyadari bahwa kemajemukan tersebut juga menyimpan potensi konflik yang dapat mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itu adalah sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai multicultural sejak awal pada anggota masyarakat Indonesia., agar mekanisme dan nilai-nilai subtantif dalam demokrasi dipahami secara benar. Sebab nilai-nilai mutikultural dan nilai-nilai demokrasi memuat nilai humanism (kemanusiaan) seperti keadilan, empati, kebersamaan, dan mampu menerima perbedaan. Kesadaran hidup dalam keberagaman etnis dan budaya, sesungguhnya itu bukanlah hal yang baru bagi bangsa Indonesia. Multikultural tidak hanya menempatkan keberagaman dalam konteks sinkretisme fisik, melainkan telah tertanam dalam relasi-relasi rohani.
Indonesia  adalah  salah satu negara yang multikultural. Hal, ini disebabkan oleh keberagaman masyarakat yang kompleks.  Dapat kita perkirakan bahwa terdapat puluhan bahkan hampir mencapai ratusan  suku  bangsa dengan  bahasa,  adat  istiadat  dan  agama  yang  berbeda-beda yang menempati  setiap  pulau  atau  sebagian  dari  suatu  pulau  di  Nusantara  ini  tumbuh  menjadi kesatuan suku bangsa yang sedikit banyak terisolasi dari kesatuan suku bangsa yang lain. Tiap kesatuan  suku bangsa  terdiri  dari  sejumlah  orang  yang  dipersatukan  oleh  ikatan-ikatan emosional, serta  memandang  diri  mereka  masing-masing  sebagai  suatu  jenis  tersendiri. Dengan  perkecualian  yang  sangat  kecil, mereka  pada  umumnya  memiliki  bahasa  dan warisan  kebudayaan  yang  sama.  Lebih  daripada  itu,  mereka  biasanya  mengembangkan kepercayaan bahwa mereka memiliki asal-usul keturunan yang sama, satu kepercayaan yang seringkali di dukung oleh mitos-mitos yang hidup di dalam masyarakat.
Namun,  suatu  hal  yang membanggakan  bahwa  meskipun  tingkat  kemajemukannya  tinggi  tetapi  tetap  kokoh sebagai  suatu  kesatuan.  Hal  ini  didasarkan  pada  ide  atau  cita-cita  yang  terdapat  dalam lambang negara yang dilengkapi dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Mekipun dengan semboyan  demikian,  bukan  berarti  di  dalam  masyarakat  Indonesia  yang  multikultural  itu tidak terjadi gejolak-gejolak   yang mengarah kepada pepecahan dalam segala bidang. Hal yang  terpenting  adalah  mayoritas  kelompok  atau  lingkungan  hukum  adat  yang  ada mengakui dan menyadari akan kesatuan di dalam keanekaragaman yang ada.


Story of my PKL

Skin piercing chill of the night wrapped in a jacket, just a cup of coffee and a laptop that is old fashioned with me this time. There are no noises that bothered as usual. They have drifted asleep in a dream, they may fatigue task today is solid. I saw the clock showed 22:00 PM in my hand, my back glued to the LCD screen, recalling the incident last week. Sometimes I try to look at the record in my handphone, just to help remind him. Yes, I remember now. October 1, 2014, that day, the day of the beginning of this story.

At that time the three of us went to college. Rather than go to college, but we will learn the work there is often called industrial practice. The first step we take, leaving a modest home, where we stopped for our practice while industry. The distance is not far from campus that we were headed, only about 300 meters. Can be reached by walking 20 minutes, using a motorcycle can be taken 5 minutes.

Promptly at 7:00 AM, we got there. It can be seen a large board inscribed with the University of Technology in Yogyakarta. Yes, this is the place for 3 months we will learn to work. Step we stopped in front of a room labeled faculty room. In the room that the three of us are given referrals will be assigned where. That all subjects, we used to meet with a woman who I value including skinny. The woman we call Ms. Dhina. He was very friendly people. But apparently this time Ms. yet to come, and we had to wait for him. Waiting, waiting and waiting, waiting for him here feels old. Boredom has started coming to swallow us. Eagerly, the three of us around the campus to relieve boredom. The first target is the computer lab. Computer lab is located on the 3rd floor, we have to climb stairs to reach it, because we are not provided the lift. Once there, it was a state of quiet, no person, then we continued walking around. The next target places of worship, praying, praying is in the central part of the Head, stay straight from the entrance to the center of campus, and will be visible.

Suddenly I had the feeling that Ms. Dhina has come. We rushed back to the faculty room. Turns out my hunch was wrong, and we re waiting. Fortunately, Ms. Dhina soon come to save us from the boredom of waiting.

"Hey, brother-sister. Let's go first. "Said Ms. Dhina with a cheery smile.
We follow with a plain-looking Ms. Dhina from behind.

"You wait here a minute yes, later if there is a task to be my call." Said Ms. Dhina by leaving us. We just nodded.

30 minutes passed, boredom started to come again. I'm looking for ideas so that boredom does not bother me. Still struggling with my mind, thinking, thinking, thinking very hard. With a high concentration of I tried to find the answer. Then I saw a UTP cable that is currently unemployed.

“This is a chance to download games and browsing”, I told myself.

I put the cable directly to the LAN port of my computer.
Just a few minutes, Ms. Dhina came with the news that in the academic need of one person and in finance requires 2 people. We also do "pingsut" to determine who in part. And the end result ilham and I receive rations in finance shared Ms. Dhini, and Rifqi in academic section along with Ms. dita. Yep, we immediately set out to the place respectively.

First set foot there was a strange, alien, and fear. Although the percentage of the different feelings. Okey, both of us were given the task to sort the documents are still random. For the first task is very easy, just takes precision and patience. However, make no mistake, even though his job is very simple but quite tiring. How not, we both have to check the box of paper that calculated counting the thousands of paper. Just a few minutes of our work, we hit a question that may not so startling.

" you want to eat?" Asked Mrs. Dhini

I think the strange, new and meet new work a few minutes, because I'm given the choice of what to eat, but maybe because soon the lunch hour .. I and Ilham silent confusion, Ms. Dhini was asked back.

" you want to eat??" Asked Mrs. Dhini again.

"Ms. wrote fried noodles, drinking iced tea." Answer Ilham

At 12:00 PM, it's time to rest, the order came. We ate it with gusto. Do not forget we worship Him, to always have protection from him.

1 hour has passed. We continued our responsibility. Time goes on, second by second, minute by minute, hour by hour has elapsed, the clock showed 16:00 PM. This time the three of us go home. With the back of the eye sore and spicy, we walked to the parking lot to take our motorcycle.

In the second day, the spirit is still burning, we set off. Nothing different from today, the same as the first day, the three of us gathered in front of the faculty and we are informed as to occupy the field yesterday and for the next day we would be in their respective fields until the orientation is completed.

Today we passed by yesterday's task has not been completed. Seconds concentration, sore, spicy eyes we had been through. Quite exhausting work in the finance department. I think it's exhausting work in the office of the court. If the field to face physical exhaustion, when in office who are tired of the psychic, and a little difficult to recover than physical fatigue.

October 3, still struggling with the paper. This time we were given a task, to check and revise the document is wrong.

"Wow, this would be spicy eyes again." I mumbled

Break time came, with a happy smile, I left the office. I went to the lobby and Inspiration campus. There we will meet with Rifqi. This is the first time the three of us on campus Friday prayers. Adzan sound, signaling the prayer time has arrived, we immediately headed for the mosque. But, because the mosque is full campus, we look for a mosque outside the campus. Right in front of the campus turns out there is a mosque called Al-Amin mosque. There we first perform Friday prayers when the PI.

After finishing the prayer, we rushed to the canteen. Just as usual I ordered my favorite foods, namely “kupat tahu”. DELICIOUS vegetable rice cake here and definitely addictive. For the price, a hefty drain on the 
wallet. Hour show at 13:00 PM, we had to go back to our respective habitats, completing our tasks.

16.00 AM arrived. It's time to pack and go home. Before going home we gathered in front of the faculty to meet ya Dhina.

"Excuse me Ms., Ms. Monday if tomorrow does not come PI license how? The three of us there is an event at school. "I asked.

"Stay for a permit, if there is a letter from the school can be attached as an exhibit." Replied Ms. Dhina.

"I see, thank ya." I said.

"Equally." He answered.
We immediately step on the gas to go home still-still, since our October 4th holiday Eid al-Adha. And for monday participated in school our permission.

"3-day holiday, fun, fun." The word in my heart.

Day 4, after a pleasant period at school and at home, we went back again to where I spend the time to look at the paper. I got an assignment Checking student payment documentation.
Break arrived, I rushed to the room to meet Rifqi academy. Previously we had agreed to go where our friends. Once completed run of worship, we both hurried away.

Heat of the sun burning our skin, the full path to add our misery. It's been 20 minutes of our journey, the steering board never seen the place of destination. Gosh, I was wrong the way, this is not the usual way I'm going through. I saw the clock hands, shows 12:40 PM. time off to stay 20 minutes longer. Panic started to attack me. I try to please myself, and then ask the destination address. Thank God, I did not stray too far, stay to the left turn at the intersection in front.

With relief I reached my destination. There plastered the word Puskom YOGYAKARTA STATE UNIVERSITY. With hurried me into, and sum up my resolve my problem.
With haste I took my bike to walk toward the parking lot. I rate my bike with maximum speed. Break time only 10 minutes. Thank God we got to campus on time, even though all the way filled with feelings of tension. We immediately went back to our respective rooms, we are left to complete the task.
The fifth day there is nothing interesting, we just continue our task is still piling up. Sorting documents,
Sixth day, as usual we perform usual activities. Heading off to college at 08.00 AM. Our tasks.
About a 10:00 AM, I got a call from Mr. Hermawan wise. Because I do not know the location of the office, I stopped first to the faculty room.

"Excuse me Ms., pack the room where the wise are you?" I asked

"Who is wise sir?" He replied

"Mr. arif floor 2." I said

"Oh, brother climbed the ladder tip, then turn to the left, the room on the left. Later the room there is no label Arif Hermawan. "He replied

"Thank ya." I said

"Equally deck." He said with his trademark smile

I rushed to the floor of the two, I'm looking for room by room. My search stopped in front of a room labeled Drs. Arif Hermawan. then I opened the door slowly. I look right and left, did not I find someone. Then slowly I entered a similar step like a thief who crept, then came someone from behind the booth.

"Pkl?" Asked the man.

"Yes. Mr. Pak Hermawan wise? "I asked.

"Yes, please help this deck, enter this data into the computer." He said Mr. Arif while providing a stack of papers.

"Oh yes, sir." I said.

I started to do my job. It took me 30 minutes to complete. And I go back to the financial space, to continue the task are given bu Dhini postponed.

On October 10, an important day for the campus of the University of Technology in Yogyakarta, In this day was the anniversary or birthday, 12 University of Technology, Yogyakarta.
As usual, I and inspiration to the financial space while Rifqi toward academic space. Just a few minutes I start work. Rifqi arrived to bring 2 pieces of lunch boxes. And we both brought into a room located in the western part of the campus. There gathered employees / employee UTY campus, was held common meal as gratitude for his birthday UTY.

"Aha, passable again get a free meal." I muttered to myself.

We immediately took the food and drink and take it out because the provided space is full. When taking food I feel many pairs of eyes watching me, and I began to feel gerogi.
When finished eating, we went back to the room each, and continue our work.

"Hoamp ... .., finally finished its job."

I turned off my laptop. I saw the clock showed 02.00 AM in my hand, My task has also been completed. Drowsiness uncontrollably again. Coffee repellent sleepiness also is up. My move from the chair, my feet step forward into the room.

I smiled at my two friends were asleep and remember the events during our stay in this temporary home. Ilham and Rifqi. We did one class, in class we also we are tolerably familiar. But somehow, for a week here we passed a lot of contention. Every day would argue. But I think it's not a problem, it was just a dynamic life, sometimes up and sometimes down. I promised myself that I, Syamsul Aji Nugroho, grade 3 Computer Engineering and Networks Smk N 2 Pengasih will make every effort to do the best current industry practice.
I shut the bedroom door. I climbed into bed, pull my blanket, my close your eyes, and eventually I fell asleep.

Senin, 11 November 2013

BUDAYA POLITIK

Menurut Almond dan Verba, dalam bukunya The Civic Culture (budaya politik kewarganegaraan) menyatakan bahwa ’’ budaya politik merupakan sikap individu terhadap sistem politik dan komponen-komponennya juga sikap individu terhadap peranan yang dapat di mainkan dalam sebuah sistem politik.Kemudian Lary Diamond, ahli politik yang menekuni tentang perkembangan penelitian mengenai budaya politik seebagai keyakian, sikap, nilai, ide-ide, sentimen dan dialokasikan evluasi suatu masyarakat tentang sistem politik nasionalnya dan peran dari masing-masing individu dalam sistem itu.Atau secara praktis, budaya politik merupakan seperangkat nilai-nilai yang menjadi dasar para aktor untuk menjalankan tindakan-tindakan dalam ranah politik.
Sistem Politik sebagai Obyek budaya Politik
-       Sistem Politik
Sistem politik: didefinisikan sebagai tindakan yang berhubungan dengan ’’keputusan-keputusan mengikat’’ suatu masyarakat.Unit sistem politik adalah tindakan-tindakan politik.Input dalam bentuk permintaan dan dukungan menjadi masukkan sistem politik.Output dalam bentuk keputusan dan tindakan politik.Jika memuasakan membangkitkan dukungan, dan jika sebaiknya akan melahirkan tuntuan baru.
-       Sistem politik sebagai obyek budaya politik
oleh David Easton, diberi pengertian sebagai seperangkat interaksi yang diabstrakkan, di mana nilai-nilai dialokasikan terhadap masyarakat.Dengan kata lain, sistem politik merupakan bagian dari sistem sosial yang menjalankan alokasi nilai-nilai (dalam bentuk keputusan-keputusan atau kebijakan-kebijakan) yang bersifat otoratif.Untuk menggabarkan cara bekerjanya sistem politik (David Easton) (lihat pada diagram 1)
Diagram Sistem Politik
Permintaan  à  input keputusan output  à  dukungan dan tindakan
Keterkaitan budaya politik dengan sistem politik olehAlmond dan Powell bahwa budaya politk merupakan ’’dimensi psikologi dari sistem politik’’.
Komponen budaya politik
1. bersifat kognitif
meliputi pengetahuan/pemahaman dan keyakinan-keyakinan individu tentang sistem politik dan atributnya, seperti ibu kota negara, lambang negara, kepala negara, batas-batas negara, mata uang yang dipakai, Pemilu/pemilukada, partai politik, fungsi DPR/DPRD, Partai politik dsb
2. bersifat afektif: menyangkut perasaan-perasaan atau ikatan emosional yang dimiliki oleh individu terhadap sistem politikcontoh: persaan optimis bahwa Pemikada langsung dpat memperoleh kepala daerah yang lebih berkualitas dan lebih dekat dengan rakyat
3. bersifat evaluatif: mengikuti kapasitas individu dalam rangka memberikan penilaian terhadap sistem politik yang sedang berjalan dan bagimana peran indivu di dalamnya.contoh: komitmen untuk mendukung pelaksanaan Pimiluka langsung sesaui dengan aturan main
Nilai-nilai budaya politik
sistem politik yang dianut oleh suatu negara secara sederna dapat digonngkan ke dalam sistem politik demokrasi dan sistem politik otoriter, maka budaya politik itu dapat bersifat demokratis dan otoriter. Nilai-nilai budaya politik demokrasi Nilai-nilai budaya politik otoriter
- Egalitarian                   - Independesi tinggi Feodal
- Pluralisme                   - Dependensi yang tinggi
- Terbuka                      - Penunjukan
- Dialogis                      - Represif
- Persuasif                    - Dogmatis
- Pemilihan                    - Tertutup
- Homogin
TIPE-TIPE BUDAYA POLITIK
a. budaya politik parokial
Bahwa individu-individu memiliki pengharapan dan kepedulian yang rendah terhadap pemerintah dan pada umumnya tidak merasa terlibat.Sehingga masyarakat yang bertipe budaya politik parokial dapat pula dikatakan memiliki ciri antara lain tidak memiliki orentasi atau pandangan sama sekali baik berupa pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan penilain (evaluasi) terhadap obyek politik (sistem politik).
b.budaya politik subyek
budaya politik subyek jikasuatu masyarkat terdapat frekuansi orintasi yang tinggi terhadap pengetahuan sistem politik secara umum dan obyek output atau pemahaman mengenai penguatan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.
c.budaya politik partisipan
memiliki orientasi terhadap seluruh obyek politik secara keseluruhan (input, output) dan terhadap diri sendiri sebagai aktor politik, ia disamping aktif memberikan masukan atau aktif mempengaruhi pembuatan kebijakan publik (input) juga aktif dalam implementasi atau pelaksanaan kebijakan publik (output)
PERKEMBANGAN TIPE BUDAYA POLITIK MENURUT GREERT
a.budaya politik abangan
budaya politik abangan adalah budaya politik masyarakat yang menekankan aspek-aspek animisme atau kepercayaan terhadap adanya roh halus yang dapat mempengaruhi hidup manusia.Semacam PKI dan PNI
b. budaya politik santri
budaya politik santri adalah budaya masyarakat yang menekankan aspek-aspek keagamaan khususnya agama Islam.Pada masa lalu, kelompoksantri cenderung berafiasai pada partai NU, atau Masyumi.Kini, mereka berafialiasi pada partai seperti PKS, PKB, PPP dan partai berbasis islam lainnya.
c.budaya politik priayi
budaya politik priayi adalah budaya politik masyarakat yang menekankan keluhuran tradisi.Kelompok priayi sering kali dikontraskan dengan kelompok petani.Pada masa lalu, kelompok masyarakat priyayi berafiliasi dengan partai PNI.Kini, mereka berafiliasi dengan partai Golkar.
Berbagai Pendapat mengenai Budaya Politik di Indonesia

Secara umum, terdapat tiga macam budaya politik yang berkembang dalam masyarakat Indonesia yaitu budaya politik tradisional, budaya politik Islam, dan budaya politik modern.

a. Budaya politik tradisional
Budaya politik tradisional ialah budaya politik yang mengedepankan satu budaya dari etnis tertentu yang ada di Indonesia. Sebagai contoh budaya politik yang berangkat dari paham masyarakat Jawa. Budaya politik tradisional juga ditandai oleh hubungan yang bersifat patron-klien, seperti hubungan antara tuan dan pelayannya. Budaya politik semacam ini masih cukup kuat di beberapa daerah, khususnya dalam masyarakat etnis yang sangat konservatif. Masyarakat tradisional seperti ini biasanya berafi liasi pada partai-partai sekuler (bukan partai agama).

b. Budaya politik Islam
Budaya politik Islam adalah budaya politik yang lebih mendasarkan idenya pada suatu keyakinan dan nilai agama Islam. Islam di Indonesia menjadi agama mayoritas. Karenanya, Indonesia menjadi negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Hal tersebut menjadikan Islam sebagai salah satu budaya politik yang cukup mewarnai kebudayaan politik di Indonesia. Orientasi budaya politik yang mendasarkan pada nilai agama Islam mulai tampak sejak para pendiri bangsa membangun negeri ini. Budaya politik Islam biasanya dipelopori oleh kelompok santri. Kelompok ini identik dengan pendidikan pesantren atau sekolah-sekolah Islam. Kelompok masyarakat Islam terdiri dari dua kelompok, yaitu tradisional dan modern. Kelompok tradisional biasanya diwakili oleh masyarakat santri yang berasal dari organisasi NU (Nahdlatul Ulama). Sementara kelompok modern diwakili oleh masyarakat santri dari organisasi Muhammadiyah. Perbedaan karakter Islam ini juga turut melahirkan perbedaan pilihan politik. Ini membuat budaya politik Islam
menjadi tidak satu warna.

c. Budaya politik modern
Budaya politik modern adalah budaya politik yang mencoba meninggalkan karakter etnis tertentu atau latar belakang agama tertentu. Pada masa pemerintahan Orde Baru, dikembangkan budaya politik modern yang dimaksudkan untuk tidak mengedepankan budaya etnis atau agama tertentu. Pada masa pemerintahan ini, ada dua tujuan yang ingin dicapai yakni stabilitas keamanan dan kemajuan.

Ciri-ciri Umum Budaya Politik di Indonesia

Rusadi Kantaprawira memberikan gambaran tentang ciri-ciri budaya politik Indonesia,
yaitu:
a. Konfi gurasi subkultur di Indonesia masih beraneka ragam. Keanekaragaman subkultur ini ditanggulangi berkat usaha pembangunan bangsa (nation building) dan pembangunan karakter (character building).
b. Budaya politik Indonesia bersifat parokial-kaula di satu pihak dan budaya politik partisipan di lain pihak. Masyarakat bawah masih ketinggalan dalam menggunakan hak dan dalam memikul tanggung jawab politiknya. Hal tersebut disebabkan oleh isolasi dari kebudayaan luar, pengaruh penjajahan, feodalisme, serta ikatan primordial. Sedangkan kaum elit politik sungguh-sungguh merupakan merupakan partisipan yang aktif. Hal tersebut dipengaruhi oleh pendidikan modern.
c. Sifat ikatan primordial yang masih berurat berakar yang dikenal melalui indikator berupa sentimen kedaerahan, kesukuan, keagamaan, perbedaan pendekatan terhadap keagamaan tertentu, puritanisme dan nonpuritanisme, dan lain-lain. Di samping itu, salah satu petunjuk masih kukuhnya ikatan tersebut dapat dilihat dari pola budaya politik yang tercermin dalam struktur vertikal masyarakat di mana usaha gerakan kaum elit langsung mengeksploitasi dan menyentuh substruktur sosial dan subkultur untuk tujuan perekrutan dukungan.
d. Kecenderungan budaya politik Indonesia yang masih mengukuhi sikap paternalisme dan sifat patrimonial. Sebagai indikatornya dapat disebutkan antara lain, sikap asal bapak senang. Di Indonesia, budaya politik tipe parokial kaula lebih mempunyai keselarasan untuk tumbuh dengan persepsi masyarakat terhadap objek politik yang menyandarkan atau menundukkan diri pada proses output dari penguasa.
e. Dilema interaksi tentang introduksi modernisasi (dengan segala konsekuensinya) dengan pola-pola yang telah lama berakar sebagai tradisi dalam masyarakat.

 Faktor Penyebab Berkembangnya Budaya Politik

Budaya politik yang berkembang dalam masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain:
a. Tingkat pendidikan masyarakat sebagai kunci utama perkembangan budaya politik masyarakat.
b. Tingkat ekonomi masyarakat, yaitu makin tinggi tingkat ekonomi atau kesejahteraan masyarakat, partisipasi masyarakat pun makin besar.
c. Reformasi politik/political will, yaitu semangat merevisi dan mengadopsi sistem politik yang lebih baik.
d. Supremasi hukum, yaitu adanya penegakan hukum yang adil, independen, dan bebas.
e. Media komunikasi yang independen, yaitu media tersebut berfungsi sebagai kontrol sosial, bebas, dan mandiri.

TIPE BUDAYA POLITIK YANG BERKEMBANG DI INDONESIA
1. sebelum terbentuknya negara RI adalah kedualatan rakyat Bung Hatta menunjukkan pijkakan budaya demokrasi itu sebenarnya tidak asing bagi rakyat indonesia, kerna tiga sifat utama yang dikandungnya, cita-cita rapat, cita-cita protes massa, cita-cita tolong menolong telah dikenal dalam demokrasi tua di tanah air kita. Sedangkan Kuntowijoyo (1999) menatakan ada 2 pusaka budaya politik bangsa yaitu afirmatif (pengukuh kekeuasaan) yang feodalistik yang merupakan tradisi politik BU (BUDI UTOMO) dan budaya politik critical (pengawas terhadap kekusaan) yang demokratis sebagai tradisi politik SI (Serikat Islam). Ketegangan antara budaya politik feodalistik dan budaya demokNGKrasi terlihat dari pendapatnya Soetatmo dan dr.Tjipto Mangungkusumo.
Soetatmo: melihat dari segi budaya, budaya jawa sejak zaman pergerakan nasional telah mendominasi.
Dr.Tjipto Mangukusumo: melihat dari segi ideal dari kepentingan politik bahwa masyarakat majemuk indonesia lebih tepat dikembangkan sebagai negara kesatuan yang menunung tinggi kemajemukan.Negara yang menunjung tinggi kememukan adalah negara demokratis.
Dengan demikian meskipun dalam masyarakat indonesia sebelum kemedekaan telah memiliki potensi budaya politik demokrasi atau budaya politik partisipan, tetapi juga masih dibarangi dengan kuatnya paham feodalisme.Berkembang tuan dan kauala yang dapat mendorong budaya bertipe parokial kerena masyarakat dikelompokkan atas ’’wong gede’’ dengan ’’wong cilek’’.Solidaritas kelompok yang kuat dapat mendorong peran politik yang berkembang hanya sebatas berorientasi kepada ikat kelompok.
2. setelah indonesia merdeka
Ø          pada masa demokrasi terpimpin budaya politiknya adaah budaya feodalistik yang mana dengan konsep negara igralistik (satu kesatuan) dengan konsepsi presiden, dengan slogam bahwa semua anggota keluarga harus makan di satu meja dan bekerja di satu meja untuk menganjurkan pembentukan kabinet gorong royong, yang terdiri dari semua partai besar dan mewakili aliran pemikiran nasioalis, Islam, komunis.
Ø          Kondisi ini berkelanjutan pada masa orde baru di mana lembaga kepresidenan sangat dominan bahkan ada kesan sakral dari kritik dan kontrol rakyat
Ø          Pada masa orde reformasi, dengan amandemen UUD 1945 maka pemgembangan kelembangaan negara tertama atara eksekutif dengan legislatif dikembangkan pada posisi yang sama kuat.Kembagaan negara untuk mendukung negara demokrasi dan negara hukum juga berkembang pesat dewasa ini kit mengenal: MK,KY,Komnas HAM, KPK,OMBUSMAN.
PENGERTIAN SOSILISASI DAN PENGEMBANGAN BUDAYA POLITIK
Pengertian
·         Gabriel A. Almond
Sosialisasi politik menunjukkan pada proses dimana sikap-sikap politik dan pola-pola tingkah laku politik diperoleh atau dibentuk, dan juga merupakan sarana bagi suatu generasi untuk menyampaikan patokan-patokan politik dan keyakinan-keyakinan politik kepada generasi berikutnya.
·          David F. Aberle, dalam “Culture and Socialization”
Sosialisasi politik adalah pola-pola mengenai aksi sosial, atau aspek-aspek tingkah laku, yang menanamkan pada individu-individu keterampilan-keterampilan (termasuk ilmu pengetahuan), motif-motif dan sikap-sikap yang perlu untuk menampilkan peranan-peranan yang sekarang atau yang tengah diantisipasikan (dan yang terus berkelanjutan) sepanjang kehidupan manusia normal, sejauh peranan-peranan baru masih harus terus dipelajari.
·         Richard E. Dawson dkk.
Sosialisasi politik dapat dipandang sebagai suatu pewarisan pengetahuan, nilai-nilai dan pandangan-pandangan politik dari orang tua, guru, dan sarana-sarana sosialisasi yang lainnya kepada warga negara baru dan mereka yang menginjak dewasa.
PROSES SOSIALISASI POLITIK
o    Pengenalan otoritas melalui individu tertentu, seperti orang tua anak, presiden dan polisi.
o    Perkembangan pembedaan antara otoritas internal dan yang ekternal, yaitu antara pejabat swasta dan pejabat pemerintah.
o    Pengenalan mengenai institusi-institusi politik yang impersonal, seperti kongres (parlemen), mahkamah agung, dan pemungutan suara (pemilu).
o    Perkembangan pembedaan antara institusi-institusi politik dan mereka yang terlibat dalam aktivitas yang diasosiasikan dengan institusi-institusi ini
SARANA SOSIALISASI POLITIK
§ Keluarga
§ Sekolah
§ Partai Politik
§ Kelompok bergaul
§ Media massa
§ Perkejaan
§ Kontak-kontak politik langsung
Dalam proses sosialisasi politik, kedudukan sarana diatas sama pentingya.Besar tidaknya peranan sanarana-sarana di atas tergantung kepada:
1. tingkat intesitas interaksi antara individu dengan sarana yang ada
2. proses komunikasi yang berlangsung antara individu dengan sarana tadi
3. tingkat penekunan individu yang mengalami proses sosialisasi politik
4. umur individu yang bersangkutan
Pentingnya Sosilisasi Pengemngan Budaya Politik
Budaya politik di dalam masyarakat seharusnya mengalami perkembangan kea rah yang lebih baik.Untuk itu, dibutuhkan sebuah strategi di dalam masyarakat agar budaya politiknya dapat berjalan k earah yang lebih baik.
Meneurut Samuel P.HUNTINTNGTON, modernisasi budaya politik ditandai oleh tiga hal, yaitu rasionalsisasi wewnang, difernsiasi struktur, dan perluasan peran serta masyarakat dalam politik.
1. sikap politik yang rasional dan otonom di dalam masyarakat
dengan sikap ini masyarakat tidak lagi memilih satu pilihan pilihan politik berdasarkan apa yang dipilih oleh pemimpinnya, baik pemimmpin agama maupun pemimpin adat.masyarakat memilih karena pemilihannya sendiri berdasarkan penilaian untuk masa depan yang lebih baik.ia tidak lagi memilih dengan gaya dengan gaya pilihan yang bersikap ikut-ikutan.
2. difensiasi struktur
maksudnya, sudah ada spesifikasi tugas yang perlu dilakukan.Dalam situasi ini, seseorang tidak lagi mengerjakan semua hal, misalnya, sebagai pemimpin agama dan juga sebagai politik.Bila dua tugas ini masih menyatu dalam satu orang atau satu institusi, berarti belum terjadi diferensiasi struktur di dalamnya. Dalam budaya politik yang modern, diferensiasi ini justru semekin jelas.
3. perluasan peran serta politik di dalam masyarakat
masyarakat semakin sadar atau melek politik.Mereka menyadari bahwa pilihan politik yang mereka ambil akan menentukan nasib mereka ke depan.
Bila ketiga indikator budaya politik ini sudah berkembang di dalam masyarakat maka budaya politik yang demokratis menemukan esensinya.Menurut Almond dan Verba, budaya politik demokratis merupakan gabungan dari budaya politik partisipan, subyek, dan parokial.
BUDAYA POLITIK DI NEGARA LAIN
Dalam The Civic Culture, Almond dan Verba mengemukakan hasil survei silang nasional (cross-national) mengenai kebudayaan politik. Penelitian mereka menyimpul¬kan bahwa masing-masing kelima negara yang ditelitinya, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Italia, dan Meksiko, mempunyai kebudayaan politik tersendiri.
ü Amerika dan Inggris dicirikan oleh penerimaan secara umum terhadap sistem politik, oleh suatu tingkatan partisipasi politik yang cukup tinggi dan oleh satu perasaan yang meluas di kalangan para responden bahwa mereka dapat mempengaruhi peristiwa-peristiwa sampai pada satu taraf tertentu.
ü Tekanan lebih besar diletakkan orang-orang Amerika pada masalah partisipasi,
ü sedangkan orang Inggris memperlihatkan rasa hormat yang lebih besar terhadap pemerintahan mereka. Kebudayaan politik dari
ü Jerman ditandai oleh satu derajat sikap yang tidak terpengaruh oleh sistem dan sikap yang lebih pasif terhadap partisipasinya. Meskipun demikian, para respondennya merasa mampu untuk mempengaruhi peristiwa-peristiwa tersebut.
ü Sedangkan di Meksiko merupakan bentuk campuran antara penerimaan terhadap teori politik dan keterasingan dari substansinya.
MEMAMPILKAN PERAN SERTA BUDAYA PARTISIPAN
warga negara yang berbudaya politik partisipan digmbarkan oleh Gabreal dan Almond sebagai suatu bentuk kultur di mana anggota-anggota masyarakat cenderung diorentasikan secara eksplisit terhadap sistem sebagai keseluruhan terhadap struktur dan proses politik serta admistratif, dengan kata lain terhadap
input dan utput dari sistem politik itu. Bebrapa sifat esensial yang dinilai dapat mewujudkan kepribadian yang demokratis, antara lain:
Menurut Laswell kepribadian demokratis meliputi:
a. sikap hangat terhadap orang lain
b. menerima nilai-nilai bersama orang lain
c. memiliki sederatan luas mengenai nilai-nilai
d. menaruh kepercayaerhadap lingkungan
e. memiliki kebebesan yang sifatnya relatif kecemasan
Oleh karena itu sifat-sifat yang akan menjadi kendala bagi perwujudan warga negara yang demokratis perlu dihindari. Sifat-sifat tersebut antara lain:
1. konservatif: yaitu suatu sikap yang mengarah pada pembentukan sikap tertutup maupun sikap ekstrim
2. otoriter: perlu dihindari karena kebribadian yang bertentangan dengan kebribadian demokratis contih: pendapat-pendapat mereka mudah dibentuk oleh sentimen
3. budaya politik subyek: berupa adanya pengkuan dan kepatuhan kepada pemerintah tanpa pelibatan urusan pemerintah harus dihindari karena hanyaa menjadi subyek yang pasif.Padahal yang diharapakan masyarakat/negara yang demokratis adalah subyek yang aktif
4. berbudya politik parokial: tidak peduli trhadap sistem politiknya
5. stone citizen dan sponge citizen
stone citizen
: yaitu sukar merima pendapat orang lain dan sukar mengemukkan pendapatnya sendiri
sponge citezen termasuk kelompok busa, di mana ia mau menerima pendapat orang lainn, dia aktif berpastisipasi, tetapi ia sukar mengemukkan idea, pendapat atas isiaitif sendiri (Nu’man somantri)
Perkembangan sosialisasi politik

Perkembangan sosialisasi politik diawali pada masa kanak-kanak atau remaja. Tahap lebih awal dari belajar politik mencakup perkembangan dari ikatan-ikatan lingkungan, seperti keterikatan kepada sekolah-sekolah mereka, bahwa mereka berdiam di suatu daerah tertentu. Anak muda mempunyai kepercayaan pada keindahan negerinva, kebaikan serta kebersihan rakyatnya. Pemahaman ini diikuti oleh simbol-simbol otoritas umum, seperti polisi, presiden, dan bendera nasional. Pada usia sembilan dan sepuluh tahun timbul kesadaran akan konsep yang lebih abstrak, seperti pemberian suara, demokrasi, kebebasan sipil, dan peranan warga negara dalam sistem politik.
Peranan keluarga dalam sosialisasi politik sangat penting. Seorang anak mempunyai gambaran yang sama mengenai ayahnya dan presiden selama bertahun-tahun di sekolah awal. Keduanya dianggap sebagai tokoh kekuasaan. Easton dan Dennis mengutarakan ada 4 (empat) tahap dalam proses sosialisasi politik dari anak, yaitu:
a. Pengenalan otoritas melalui individu tertentu, seperti orang tua anak, presiden, dan polisi.
b. Perkembangan pembedaan antara otoritas internal dan yang eksternal, yaitu antara pejabat swasta dan pejabat pemerintah. 
c. Pengenalan mengenai institusi-institusi politik yang impersonal, seperti kongres (parlemen), mahkamah agung, dan pemungutan suara (pemilu).
d. Perkembangan pembedaan antara institusi-institusi politik dan mereka yang terlibat dalam aktivitas yang diasosiasikan dengan institusi-institusi ini. Di Rusia dilakukan suatu penelitian secara khusus untuk menyelidiki nilai-nilai
pengasuhan anak yang memengaruhi sosialisasi politiknya. Nilai-nilai tersebut adalah:
1. Tradisi; terutama agama, tetapi juga termasuk ikatan-ikatan kekeluargaan dan tradisi pada umumnya
2. Prestasi; meliputi ketekunan, pencapaian/perolehan, ganjaran-ganjaran material mobilitas sosial.
3. Pribadi; meliputi kejujuran, ketulusan, keadilan, dan kemurahan hati.
4. Penyesuaian diri; yaitu bergaul dengan baik, menjauhkan diri dari kericuhan, menjaga keamanan dan ketenteraman.
5. Intelektual; belajar dan pengetahuan sebagai tujuan.

6. Politik; sikap-sikap, nilai-nilai, dan kepercayaan berkaitan dengan pemerintahan.